Majapahit. Source : Kompas. Tirta puspa lawan dupa/ Kumelun ngambar arum mawar, Katur Hyang Kawasa/ Ratu-ratuning narendra/ Ninging nala, nanging rumegung nala sru sumenyut/ Mugi sihing padukendra/ Pasinga cahya rahayu....

Nyanyian "Panjang Ilang" yang dilantunkan secara koor oleh para sisya (umat) yang terdiri dari pria dan wanita setengah baya yang mengenakan busana dan ikat kepala warna hitam, diiringi tabuhan gamelan satu-satu itu lebih mirip dengungan serangga.

Menggema di antara perbukitan yang didominasi tanaman teh yang mengurung lokasi upacara palebon atau ngaben di Padepokan Segaragunung, Ngargoyoso, Karanganyar, Senin (15/2) siang.

Suara nyanyian mereka monoton, berirama tlutur (sedih), mengalun-tersendat. Menimbulkan suasana khidmat sekaligus mistis, mengiringi hampir sepanjang upacara palebon jenazah Rama Pandita Djajakoesoema dan Ratu Pandita Estri.

Upacara ini dilaksanakan di area ukuran 4 meter x 15 meter yang berlereng curam, di ujung padepokan sederhana, sekitar 400 meter dari jalan yang menghubungkan Candi Sukuh-Candi Cetha, di punggung Gunung Lawu.

Para peserta upacara berjejalan, termasuk tamu, wartawan, dan beberapa wisatawan asing, di lereng bagian atas dan samping. Mereka tampak antusias menyaksikan upacara kremasi jenazah secara Hindu yang langka karena konon sudah 500 tahun terakhir tidak lagi dilaksanakan di Jawa, terutama di sekitar Gunung Lawu.

Rangkaian upacara palebon dimulai pada Kamis (11/2) dengan mengangkat jenazah Djajakoesoema (1923-2007) dan istri dari makam. Puncak ucapara palebon Senin kemarin dimulai persis pukul 10.00 dengan memasukkan kedua jenazah ke dalam bade berupa patung kayu berbentuk sapi.

Setelah disembahyangkan secara Hindu yang dipimpin Ida Pedanda Gede Putra Manuaba dari Badung, Bali, didampingi Sri Kanjeng Bhagawan Istri Ratu Gayatri dari Boyolali, kremasi pun dimulai dengan menggunakan kompor khusus dari minyak tanah. Kremasi baru selesai pukul 13.10 karena hujan deras.

Sebagian abu jenazah ditempatkan dalam tempurung kelapa gading, selanjutnya dilarung di pantai Ngobaran, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebagian lagi disimpan dalam wadah-wadah dari gerabah untuk disimpan keluarga.

Menurut Agung Arjuna (53), almarhum ayahnya mengembangkan agama Hindu yang sinkretik dengan budaya lokal, Jawa. "Setelah tidak berdinas di militer, beliau menekuni laku talak brata, bertapa dari satu tempat ke tempat lain," paparnya.

Almarhum mengembangkan spiritualisme yang didasarkan pada Hinduisme yang pernah berkembang di sekitar Lawu. Keberadaan Candi Sukuh, Cetha, Pelanggatan, Panggung, dan Kethek di sekitar Gunung Lawu bukti bahwa kawasan itu pernah menjadi "pusat" agama Hindu. Ini diperkirakan pada abad ke-15 ketika Majapahit runtuh.

Djajakoesoema kemudian menjalani diksa (pentahbisan) sebagai pendeta Hindu di Bali pada 1993, mendirikan Padepokan Segaragunung, dan mengembangkan ajaran spiritualisme "baru".

"Almarhum pada dasarnya tidak sebatas agama Hindu, ajarannya bersifat universal. Semua umat beragama terwadahi di padepokan ini," kata Agung.

Mardiyoto (70), cantrik dari Klaten, menambahkan, almarhum mengajarkan tentang kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari budaya tirta yang intinya pembinaan budi pekerti yang luhur. (ardus sawega)


Majapahit. Source : detikhot.com. Jakarta Aktris Happy Salma akan menikah dengan kekasihnya asal Bali, Tjokorda Bagus pada 3 Oktober mendatang. Menikahi Tjokorda Bagus yang keturunan raja, Happy pun dikabarkan sudah menjalani upacara pindah agama Hindu.

Happy diketahui menjalani upacara pindah agama Hindu, Sudhi Wadani, di Villa Ibah, Ubud, Rabu (29/9/2010). Selama seharian, bintang film 'Capres' itu menjalani ritual tersebut. Namun media tidak bisa meliput atau memasuki hotel tempat upacara berlangsung.

Sudhi Wadani berasal dari kata sudhi dan wadani. Sudhi dari bahasa Sansekerta, yang berarti penyucian, persembahan, upacara penyucian. Wadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan. Secara singkat dapat dikatakan upacara Sudhi Wadani adalah upacara dalam Hindu sebagai pengukuhan atau pengesahan ucapan atau janji seseorang yang secara tulus ikhlas dan hati suci menyatakan menganut agama Hindu.

Sudhi Wadani merupakan salah satu syarat yang harus dijalani bila seseorang ingin menikah dengan adat Hindu.

Seorang sumber di Ubud membenarkan mengenai ritual yang telah dijalani Happy tersebut. "Happy sudah menjalani upacara Sudhi Wadani," ujarnya saat ditemui di kawasan Ubud, Bali, Kamis (30/9/2010).

Happy rencananya akan menikah dengan kekasihnya, Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa pada 3 Oktober di Puri Saren Kauh, Ubud. Upacara akan digelar dalam adat Hindu. Setelah proses pernikahan, Happy dan Tjokorda Bagus akan menggelar jumpa pers pada pukul 13.30 WITA.

Bintang teater 'Nyai Ontosoroh' itu berada di Villa Ibah, Ubud sejak Minggu (26/9/2010). Menjelang pernikahannya, dengan memakai kebaya, Happy terlihat beraktivitas membuat sarana dan prasarana upacara pernikahan dalam adat Hindu, seperti menyiapkan sesajen.

Tjokorda Bagus, calon suami Happy, dikenal sebagai sebagai seorang model dan fotografer asal Pulau Dewata. Ayahnya adalah Tjokorda Kertayasa yang merupakan anggota DPRD Bali dari partai Golkar. Sedangkan sang ibu, Jero Asri Kertayasa berasal dari Australia. Tjokorda Bagus yang keturunan bangsawan Kerajaan Ubud juga disebut-sebut memiliki penginapan mewah di Bali.(eny/iy)

Majapahit. Source : detiknews.com. Puluhan fragmen atau kepingan logam emas ditemukan di situs Kimpulan yang ada di kompleks kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Kepingan emas berbagai ukuran itu ditemukan di candi induk/utama dan di candi perwara yang merupakan candi peninggalan zaman Hindu sekitar abad 9-10 Masehi.

"Ada puluhan fragmen emas sejak kami melakukan pemugaran di situs Kimpulan. Semuanya sudah kami selamatkan dan diamankan untuk diteliti dan didata," ungkap Staf Teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY, Dulrahman di kampus UII di Jl Kaliurang Km 12,5, Sleman, Jumat (1/10/2010).

Menurut dia, fragmen emas itu diantaranya ditemukan peripih dibawah batu lingga-yoni di candi induk. Satu lempeng emas itu berdiameter 3 cm dengan berat sekitar 8,9 gram. Selain itu ditemukan lambang bunga teratai atau padma serta puluhan logam perak, perunggu dan lain-lain. Dari 12 batu umpak candi juga ditemukan 11 mangkuk kuno.

"Biasanya di candi Hindu itu selalu ada lempeng emas di bawah batu peripih dan benda logam lainnya. Fragmen bunga teratai itu juga merupakan lambang agama Hindu," terangnya.

Dulrahman mengatakan, sejak dilakukan pemugaran sejak tanggal 7 September, tim peneliti dari BP 3 DIY hampir selalu menemukan benda-benda kuno termasuk fragmen emas. Penemuan terakhir fragmen logam pada hari Kamis tanggal 30 September baik di candi induk maupun candi perwara. Di Candi perwara diantaranya ditemukan fragmen temaga, batu giok ukuran 1,6 cm dengan ketebalan kurang dari 1 cm.

Total temuan yang berhasil diselamatkan adalah kepingan bentuk Padma, 2 keping koin atau mata uang emas, 20 keping mata uang perak, beberapa kepingan emas ukuran 1 cm, 12 mangkuk berisi berbagai kepingan pernak-pernik, serta berbagai jenis logam dari perak, perunggu, kaca dan batu.

"Semua masih diteliti. Namun total jumlahnya juga belum kami hitung karena setiap hari kita menemukan dan didata. Mengenai bagaimana detil dan struktur candi masih terus kita lakukan penelitian," pungkas dia.


Majapahit. Source : I Made Sukanti.

Roda terus berputar, waktupun silih berganti, segala kejadian-pun tidak pernah dapat kita bayangkan sebelumnya, kita sebagai umat manusia dengan segala keterbatasannya hanya dapat melakoni, dan kita sangat percaya bahwa Sang Waktu dan segala yang terjadi di dunia ini ada yang mengatur serta mengendalikannya.

Di Awal bulan Agustus 2010, para pinisepuh se-nusantara (Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulewesi, Nusa Tenggara, Maluku, Irian) berkumpul di Mojokerto - Jatim untuk membahas masalah yang sedang terjadi di Nusa dan Bangsa ini, Ida di Kedhatuan Kawista juga mendapatkan undangan untuk menghadiri acara tersebut.

Dengan adanya pertemuan agung itu kita berharap ada perubahan pada bumi Nusantara kedepan kearah yang lebih baik, seperti apa yang kita harapkan dan kita cita-citakan oleh para pendahulu kita demi kejayaan Nusantara yang gemah ripah loh jinawi.

Dahulu, Nusantara ini sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa dan negara-negara tetangga, suaranya sungguh menggelegar dan menggetarkan jiwa di seantero dunia, coba simak sejarah para pemimpin Negara ini, mulai pada jaman kerajaan-kerajaan sampai pada jaman Republik yang dipimpin oleh Bung Karno. Evolusi bergulir dengan berselangnya sang waktu dan Revolusi kini sepertinya sudah nampak diambang pintu, hal ini tidak mustahil akan terjadi karena Sang Waktu telah mengatur. Mari kita panjatkan doa semoga Nusa dan Bangsa ini terselamatkan dari segala rintangan dan marabahaya demi kelangsungan Negara serta kesentosaan anak cucu kita nanti.
--------------------------
Pada malam tahun baru 2010, Ida nangiang (membangunkan) Pusaka Tri Sula yang berada di Puncak Gunung Semeru - Lumajang (Jatim). Demikian juga Ida nangiang (membangunkan) Arca Bhagawan Manu (Hyang Semar) di sebuah pula kecil di daerah Malang (Jatim), nama pulaunya belum diketahui.


Majapahit. Source : I Made Sukanti. Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan habisnya kekuasaan Hindu di tanah Jawa pada Tahun 1504 s/d 1512 (masehi), berkaitan dengan Kutukan Hyang Sabdo Palon, bahwa 500 tahun setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit beliau akan menagih kembali Nusantara ini yang ditandai dengan bencana dimana-mana.

Menjalankan Titah Hyang Sabdo Palon
Pada suatu ketika Ida menerima pawisik pada sekitar bulan Januari 2006, bahwa Ida harus mencabut keris pemasung Hyang Sabdo Palon yang bertempat di Goa Mayangkara, Alas Purwo-Jatim, tugas itu beliau laksanakan pada bulan Maret 2006. Konon diketahui bahwa roh Hyang Sabdo Palon dipasung oleh Wali Songo.

Pada saat pelaksanaan pencabutan keris pemasung tersebut, ada seorang Kyai yang juga telah menjaga dan mengharapkan keris itu selama tujuh tahun lamanya. Bapak Kyai ini merasa sangat heran, melihat Ida yang tiba-tiba datang dan serta merta mampu mendapatkan / mencabut keris tersebut, sedangkan Bapak Kyai ini telah 7 tahun lamanya menunggu untuk mendapatkan keris Pusaka pemasung Hyang Sabdo Palon tersebut, namun tidak membuahkan hasil.

Hyang sabdo Palon dirantai dan dipasung dengan menggunakan keris. Pada saat pencabutan keris tersebut oleh Ida, rantai yang membelenggunya terlepas, pada waktu itu yang terangkat hanya kerisnya saja. Namun pada hari Selasa Tanggal : 13 Juli 2010 rantai yang terlepas tersebut telah berhasil diambil oleh Ida di Pantai Pura Geger, Nusa Dua - Bali pada jam 21.00 WITA. Pada acara pelepasan rantai ini, Ida mendapatkan anugerah berupa sebuah batu permata sebesar gelas yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Setelah tercabutnya keris pemasung Hyang Sabdo Palon pada bulan Maret 2006, dua bulan berikutnya terjadilah ledakan Lumpur Lapindo pada bulan Mei dan juga meletusnya Gunung Merapi,dan bencana alam lainnya yang datangnya silih berganti, sepertinya beliau Hyang Sabdo Palon telah mulai menagih janjinya.

Menurut Ida, Kutukan ini tidak bisa jalan bila hal ini tidak dilakukan / dijalankan oleh umat manusia sebagai utusan-Nya.

Telah banyak dilakukan yadnya sesuai Titah Hyang Sabdo Palon dan para Dewata.
Pada saat melakukan Yadnya ngelinggihan Aksara Bang dan upacara Soma di Puncak Gunung Batur-Kintamani tiga bulan yang lalu, Ida juga mendapat pawisik untuk mengangkat Lonceng Pusaka untuk dipakai nangiang (membangunkan) sarwa Bhutakala. Lonceng Pusaka ini tangiang (dibangunkan) Ida di Malang dekat Pura Balekambang. Dengan membunyikan Lonceng Pusaka ini sarwa Bhutakala segera bangkit dari alamnya. Para pemimpin Bhutakala ini bersemayam di Gunung Batur dan di Puncak Gunung Batur tempat stana Dewi Danu. Para BhutakKala ini Putra Dewi Danu karena beliau menguasai tanah dan air.

Sempat saya bertanya kepada Ida, "Kenapa ngangkat loncengnya di Pantai Selatan ratu...?" jawab beliau, begini Made, ternyata Dewi Danu itu memiliki banyak sebutan, itu tergantung dari manifestasi beliau, bahwa Dewi Danu, Ratu Kanjeng Kidul, Dewi Gangga dan Dewi Kwan Im, beliau itu hanya satu saja akan tetapi disebut dengan banyak nama, sesuai dengan manifestasi yang beliau ambil.

Pada perayaan Tilem tanggal 11 Juli 2010 yang jatuh pada hari Minggu, kami melakukan ritual pelepasan para Bhutakala yang telah tangiang (dibangunkan) oleh Ida di Puncak Gunung Batur dan para Bhutakala tersebut telah mapupul ring Pura Pancer Jagad di Desa Belatungan, Pupuan - Tabanan.

Upacara pelepasan para Bhutakala
Kami melakukan Upacara pengideran Bhuwana dengan memutar senjata Dewata Nawa Sanga dengan kober bergambar Dewata Nawa Sanga dan Bhutakala, berputar tiga kali mengelilingi api soma.

Terbersit dalam hati dan terbetik dalam pikiran, kami sering mendengar puja mantra Pandita/ Pinandita yang menyebutkan Dewa ya, Bhuta ya, jadi pengawak Dewa itu ternyata para Bhutakala.

Mungkin kita jarang melihat seperti apa sih wujud butha pengawak Dewa itu, yah kami pun heran kok Ida bisa melukis seperti itu? yah karena beliau mampu mengundang Bhutakala itu lalu beliau melukisnya. Ada wujud Bhutakala tanpa memiliki tangan dengan mulut mengeluarkan api, ada juga terangkai tiga kepala saja seperti kepalanya Sang Hyang Licin tanpa memiliki badan (Bhuta pengawak Dewa Wisnu) dan para Buthakala inipun punya nama masing-masing.

Nah, para Bhutakala inipun dikirim ke seluruh nusantara pada upacara ritual yang dilaksanakan pada Tilem satu setengah bulan yang lalu dan ditugasi untuk menyadarkan umat manusia dari kekeliruan dalam menjalani hidupnya sesuai dengan pesan Hyang Sabdo Palon, bila belum sadar maka akan menerima petaka dari-Nya.

Manusia sangat sulit menyadarkan umat manusia dari kekeliruannya, beliau Hyang Sabdo Palon hanya dengan kaki tangannyalah (para Bhutakala), mencoba untuk menyadarkan umat manusia dari kekeliruannya.

Pada saat ritual pelepasan Bhuta Kala selesai dilaksanakan, ada sabda dari beliau kepada Ida " ning... nah jani cening melukat dengan api, cening khan sampun sering melukat dengan tirta " (nak... sekarang sucikanlah dirimu dengan api, engkau khan sudah sering disucikan dengan menggunakan tirtha/air). Ida Dengan perasaan ragu bercampur takut mengikuti pesan beliau agar dilukat (disucikan) dengan api, apakah nantinya tidak kepanasan?

Setelah dilaksanakan penyucian ternyata api soma atas kehendak beliau tidak memunculkan panasnya, maka kami beramai-ramai melukat dengan api soma pada saat itu, inilah bukti bahwa beliau ada dan bersama kita.

Marilah selalu eling dengan ajaran leluhur agar kita terselamatkan, bencana akan terjadi disana-sini di nusantara ini dan baru akan berakhir pada tahun 2017, pada tahun itu mulailah Nusantara ini akan menampakan kejayaannya kembali.

Majapahit. [JAKARTA] Tim ilmuwan terkemuka dari komunitas ilmiah Rusia menyatakan bahwa bencana lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur tidak terkait sama sekali dengan pengeboran sumur gas di sekitar area tersebut. Lumpur Sidoarjo murni bencana alam yang dipicu oleh dua gempa bumi, yakni gempa tanggal 9 Juli 2005 yang berpusat tepat di bawah zona letusan lumpur dengan kekuatan gempa 4,4 SR dan gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6,3 SR.

"Setelah melakukan penelitian yang intensif selama enam bulan dengan menggunakan data paling aktual, kami juga menyimpulkan bahwa Pulau Jawa, terutama wilayah Jawa Timur dan Tengah, rawan semburan lumpur seperti di Sidoarjo.

Saat ini dalam radius 50 kilometer dari pusat semburan lumpur Sidoarjo terdapat sedikitnya 15 area yang berpotensi mud volcano," ujar Ketua Tim Ilmuwan Rusia, Dr Sergey V Kadurin, saat berkunjung ke redaksi SP di Jakarta, Rabu (29/9).

Sergey memimpin tim yang terdiri dari ilmuwan-ilmuwan terkemuka dari Russian Institute of Electro Physics, yang datang ke Indonesia Jakarta untuk memaparkan hasil riset mereka yang didasari oleh data seismik dari Pemerintah Indonesia yang belum pernah dikemukakan sebelumnya.

Dalam kunjungan tersebut, Sergey didampingi Boris Gromov dan Yuriy P Rakintsev dari perusahaan minyak dan gas Indonesia-Rusia RINeftGaz, Igor Kadurin dari Jurusan Elektro Fisika Institut Rusia, Wakil Ketua Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Prof Dr Hardi Prasetyo. serta Angus Carnegie dan Jeffrey Richard dari Humanitus, LSM berbasis di Australia yang kini giat membantu korban lumpur Sidoarjo.

Menurut Sergey, tim ilmuwan Rusia berkesimpulan bahwa semburan lumpur Sidoarjo tersebut merupakan hasil langsung dari pengaktifan kembali gunung lumpur tua di bawah permukaan tanah yang terjadi akibat dari serangkaian kegiatan seismik.

"Lusi terjadi akibat dari kembali aktifnya struktur gunung lumpur yang telah terbentuk sekitar 150.000 - 200.000 tahun lalu yang kemudian meletus pada 29 Mei 2006 dan terus berlanjut hingga kini. Letusan itu dipicu oleh serangkaian kegiatan seismik yang telah dimulai 10 bulan sebelumnya," ujar Sergey yang dalam laporannya membahasakan lumpur Sidoarjo dengan singkatan lusi.

Ia menjelaskan, gempa bumi pada 9 Juli 2005 merupakan salah satu peristiwa geologi yang membantu pembukaan saluran lumpur. Selanjutnya, pergerakan patahan Watukosek yang terjadi terus menerus telah membantu proses ini lebih lanjut. Dan gempa Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelum letusan (semburan) lusi menjadi sebuah kick-off yang terakhir.

"Karena itu, tim ilmuwan Rusia berkesimpulan bahwa lusi murni bencana alam yang tidak terkait sama sekali dengan pengeboran migas di dekatnya," tegas Sergey.

Penelitian Panjang

Kesimpulan tersebut, lanjutnya, tidak dilakukan secara serampangan tetapi melalui penelitian panjang dan serius dengan mengkonstruksi sebuah Sistem Informasi Geologi (GIS - Geological Information System) yang memungkinkan mereka untuk menciptakan sebuah model 3D dari formasi geologi bawah tanah di area tersebut. Hal ini memungkinkan tim peneliti tersebut untuk memiliki sebuah gambaran sesungguhnya dari sumber lumpur dan bagaimana sumber lumpur tersebut memiliki saluran untuk keluar ke permukaan. Dengan penggambaran 3D ini, tim peneliti Rusia mampu membuktikan ataupun menyangkal beberapa teori mengenai lusi yang mencuat selama empat tahun belakangan ini.

"Dengan kesalahan asumsi bahwa pengeboran merupakan penyebab dari letusan lumpur, pihak yang berwenang berada dalam bahaya serta mengabaikan kemungkinan bencana yang akan datang dan kemungkinan lalai dalam mengambil tindakan antisipasi yang tepat, yang mencakup evakuasi penduduk di daerah sekitarnya," ujar Sergey.

"Hal ini dapat disimpulkan sebagai fakta yang tidak terbantahkan bahwa dalam peristiwa gunung lumpur lusi, saluran lumpur telah ada jauh sebelum adanya pengeboran sumur. Bahkan terdapat dua saluran utama dengan tiga titik letusan potensial yang dapat diobservasi melalui tampilan 3D dari sub terrain," tambah Dr Igor Kadurin.

Menurut Igor, ancaman semburan susulan masih bisa terjadi di Sidoarjo dan kawasan sekitarnya. "Kita memerlukan sistem untuk memprediksi erupsi lusi, yang bisa memberikan Anda informasi apa yang akan terjadi bulan depan, minggu depan, atau tahun depan. Jadi kita bisa tahu harus berbuat apa dan membuat sejumlah persiapan," katanya.

Ia mengakui tidak bisa memprediksi kapan semburan susulan bisa terjadi karena belum melakukan penelitian langsung di lokasi lusi. "Diperlukan kajian lebih lanjut untuk menentukan luas wilayah yang bisa terkena dampak semburan susulan dan potensi sembutan berikutnya," ujar Igor sembari menegaskan bahwa lusi tak mungkin dimatikan.

Boris Gromov menambahkan, minat para ilmuwan Rusia dalam meneliti peristiwa ini, di samping keinginan mereka untuk membantu masyarakat Indonesia dalam memecahkan masalah yang disebabkan oleh gunung lumpur di Jawa, juga merupakan sebuah bukti dari persahabatan dan kerja sama antara Rusia dan Indonesia yang telah terjalin sejak lama.

Menurutnya, penelitian tersebut diawali dari kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Jakarta pada September 2007, yang menyerukan hubungan kerja masa yang lebih baik antara Moskow dan Jakarta di berbagai area, termasuk penelitian ilmiah.

"Tujuan dari tim ini bukan untuk memulai sebuah diskusi panjang tanpa hasil mengenai penyebab dari letusan lusi, namun untuk mempresentasikan sebuah pendapat ilmiah dari ilmuwan Rusia serta Pemerintah Rusia tentang berbagai cara dalam menangani lusi dan kemungkinan bencana di masa depan dengan kerugian dan kerusakan ekonomi seminimal mungkin," tandas mantan tentara Rusia yang paling akhir meninggalkan Afghanistan ini.

Sementara itu, Hardi Prasetyo menegaskan bahwa ancaman semburan lumpur di Jawa memang sangat nyata, kendati selama ini belum masuk dalam agenda bencana alam pemerintah selama ini. "Kasus lusi membuka kesadaran seriusnya ancaman semburan lumpur," katanya seraya mengungkapkan bahwa sejak tahun 2009 pemerintah mengambilalih sepenuhnya kasus lusi.

Masalah ini, tambah Hardi, sesungguhnya telah terjadi sejak dulu kala. Bahkan sebagian ilmuwan percaya bahwa Kerajaan Majapahit runtuh bukan karena perang, tapi karena semburan lumpur.


Majapahit. Satu lagi peninggalan Kerajaan Majapahit berhasil ditemukan. Sebuah kolam yang diduga kuat sebagai tempat mandi para raja ditemukan warga di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Situs bersejarah ini ditemukan Ruskan (63) di belakang rumahnya. Secara tak sengaja, kakek ini menemukan bangunan dari batu bata kuno saat menggali tanah untuk produksi batu bata. Secara perlahan, Ruskan berhasil ”membuka” tabir sejarah kuno dimulai bulan Desember tahun lalu.

Saat ini, Ruskan sudah berhasil membuka kolam hingga berukuran 7 X 6 meter dengan kedalaman kolam mencapai hampir 3 meter. Tampak jelas jika bangunan ini merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan. Penemuan Ruslan inipun mendapatan perhatian langsung dari Sekretaris Direktur Jendral (Setditjen) Sejarah dan Purbakala Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Kamis (11/3/2010).

Kolam kuno ini mirip dengan bangunan Candi Tikus, yang juga ditemukan di Trowulan. Pada bagian dinding kolam terdapat beberapa buah pancuran air dan berlantai batu bata. Bangunan itu berundak-undak yang menandakan jika bangunan tersebut bukan milik warga biasa. Diperkirakan, temuan ini hanya sepucuk dari luas bangunan utuhnya.

Plt Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Aris Soviani mengatakan, dari beberapa kali penelitian yang dilakukan pihaknya di lokasi temuan, didapatkan beberapa kesimpulan. Salah satunya, pihaknya menyakini jika bangunan kuno temuan Rukan itu adalah kolam pemandian.

”Kita sudah beberapa kali melakukan kajian awal atas bangunan yang sudah tampak,” terang Aris Soviani.

Namun kata dia, kolam yang ia sebut itu merupakan kolam yang istimewa. Karena dilihat dari bangunan dan arsiteknya, kolam tersebut adalah milik petinggi kerajaan. Ia tak menampik jika bangunan itu mirip dengan kolam di Candi Tikus. ”Diduga kuat, kolam ini adalah milik Raja Majapahit,” ujarnya.

(Tritus Julan/Koran SI/ram)

Majapahit. By : Christovita Wiloto. Banyak aset-aset Indonesia strategis kini dikuasai negara-negara asing. Pembicaraan strategis Indonesia sekarang tidaklah aman lagi, karena operator-operator telepon seluler dimiliki dan dikontrol oleh negara asing, dan setiap saat menyadap pembicaraan kita.

Sebut saja PT Indosat Tbk. yang pernah dijual ke Temasek Holding dan kini berada di tangan Qatar Telecom, PT Telkomsel yang dimiliki Temasek Singapura, XL yang dimiliki Malaysia dan masih banyak lagi.

Saya bermimpi, Indonesia bisa berjaya seperti sejarah kita dulu, saat Indonesia menjadi negara perdagangan besar yang memiliki pengaruh kuat di dunia.

Majapahit tercatat telah memiliki hubungan dagang dengan Kamboja, Thailand, Birma dan Vietnam dan bahkan, menempatkan perwakilannya di Cina. Dalam bidang perdagangan, kopi Jawa dan Sumatera telah terkenal di seluruh dunia. Banyak orang di berbagai belahan dunia yang belum benar-benar terbangun sebelum menikmati nikmatnya kopi Indonesia. Sampai kini Coklat Indonesia terkenal menjadi pemasok pabrik-pabrik coklat di Swiss dan Amerika.

Saya bermimpi, Indonesia berjaya seperti sejarah kita dulu, Majapahit misalnya dikenal sebagai kerajaan yang mempersatukan bangsa dan negara menjadi kuat. Pengaruh Majapahit bahkan melampaui batas-batas yang kini disebut sebagai Indonesia.

Kitab Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV menyebutkan Nusantara, wilayah
kekuasaan Majapahit terbentang dari Sumatera hingga Papua (Wanin).

Saya bermimpi, Indonesia bisa membeli dan menguasai raksasa-raksasa bisnis di dunia, seperti yang mereka lakukan pada Indonesia selama ini, mereka memperlakukan Indonesia sebagai pecundang. Misalnya Temasek. Di Indonesia, konglomerasi Temasek ini sudah cukup lama dikenal, karena keterlibatan bisnisnya dengan sejumlah taipan dan usahanya memburu sektor telekomunikasi.

Lewat STT, pada tahun 2001 Temasek termasuk investor yang paling sigap menawar saham PT Telkomsel. Usaha itu kemudian membuahkan hasil dengan mengantongi saham operator seluler terbesar di Indonesia sebesar 35 persen.

Temasek yang menguasai saham STT sampai 67,65 persen, dengan kalimat lain, secara tidak langsung juga menggenggam 23,7 persen saham Telkomsel. Bersama Cargill Golden Agri Resources, Temasek juga masuk dalam pengelolaan dan pengembangan perkebunan minyak kelapa sawit di Indonesia.

Kita tahu, saat dibeli oleh Temasek, jumlah pelanggan seluler Indosat masih sekitar 3,5 juta namun hingga dijual kepada Qatar Telecom tahun lalu, pelanggan Indosat sudah mencapai 16,7 juta pelanggan atau nyaris tujuh kali lipat jumlah penduduk Singapura.

Dari sisi laba, Indosat terus meraup angka paling sedikit 25 persen dari nilai investasi awal Temasek sebesar Rp 5 triliun, atau sekitar Rp 1,25 triliun.

Hingga akhir 2006, BUMN Singapura itu mampu meraup pendapatan usaha Rp 12,3 triliun. Sebanyak 75,4 persen dari pendapatan itu disumbangkan oleh bisnis selulernya dan itu disumbangkan oleh Indosat. Bisa dibayangkan berapa triliun rupiah yang dikeduk pemerintah Singapura dari Indosat selama lima tahun terakhir? Lalu bayangkan pula andai Indonesia kemudian membeli Temasek?

Saya bermimpi, Indonesia juga bisa membeli Khasanah Nasional Bhd. dari Malaysia. Konglomerasi ini, sekarang menguasai sejumlah sektor bisnis di Indonesia. Mulai dari telekomunikasi hingga bank.

Di bidang telekomunikasi, Khasanah, misalnya menguasai operator seluler XL. Di perbankan, Khasanah menggenggam saham Bank Niaga dan Bank Lippo, yang kini setelah dimerger diubah namanya menjadi Bank CIMB Niaga.

Lalu Malayan Banking (Maybank) membeli 100 persen saham konsorsium Sorak Finansial Holdings Pte Ltd di PT Bank International Indonesia (BII) Tbk. Satu bank Malaysia juga sudah menguasai Bank Bumiputera.

Lalu Group Guthrie, menguasai 25 perusahaan perkebunan dari hasil lelang yang digelar BPPN. Dengan penguasaan lahan tersebut, Guthrie kini memiliki lebih dari 260 ribu hektare lahan kelapa sawit di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dunia Bangkrut, Indonesia Jaya

Sejauh ini kita tahu, banyak sudah perusahaan-perusahaan kelas dunia yang akhirnya jatuh bangkrut, karena terlalu mengandalkan apa yang belakangan ini disebut sebagai “kebaikan” pasar bebas alias, free trade dengan “tangan-tangan yang tidak terlihat” itu.

Free Trade sudah menjadi agama ekonomi yang kini sedang dianut Indonesia, dan setiap saat mengancam kebangkrutan Indonesia.

Dalam Free Trade, siapa pun termasuk dari negara-negara asing, bisa membeli apa saja dan kapan saja, sepanjang memiliki duit, termasuk membeli perusahaan strategis yang menjadi jantung penghidupan Indonesia. Tak ada perlindungan pemerintah, karena perlindungan dianggap haram.

Terbukti sekarang, kita bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaan dunia itu pun kini jatuh bertumbangan, bangkrut, dan terpaksa pemerintahnya pun harus ikut campur tangan, untuk menghindari kebangkrutan sistemik yang lebih gila lagi.

Saya bermimpi, Indonesia terhindar dari kebangkrutan total, seperti yang terjadi dengan bangsa-bangsa lain saat ini. Kondisi kebangkrutan nasional kini mengintai Indonesia, mengingat sejumlah BUMN dan korporasi besar di Indonesia kini banyak yang dikuasai oleh asing, dikuasai negara asing yang kini juga sedang dilanda krisis.

Saya karena itu, sekali lagi bermimpi, untuk bukan hanya membeli perusahaan-perusahaan Indonesia yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing, tapi juga bermimpi membeli holding perusahaan-perusahaan asing itu.

Saya bermimpi, Indonesia tidak lagi menjadi bangsa pengemis utang pada negara-negara lain dengan menggadaikan kemandiriannya. Saya bermimpi, Indonesia justru mampu memberikan pinjaman bagi negara-negara lain. Indonesia mampu membantu negara-negara lain menjadi bangsa yang makmur.

Saya bermimpi, Indonesia membeli Chaebol-chaebol Korea, konglomerasi besar ala Korea. Lihat misalnya yang terjadi pada Ssangyong Motor, Korea Selatan yang mempekerjakan 7 ribuan orang. Perusahaan itu merupakan salah satu unit SUV yang sahamnya dibeli dan dimiliki produsen otomotif China, SAIC Motor.

Awal tahun ini, Ssangyong menjadi perusahaan terbesar di Korea Selatan yang pertama yang berdiri di tubir kebangkrutan. Itu sebabnya, awal tahun ini Ssangyong kemudian mengajukan permohonan perlindungan kebangkrutan kepada pemerintah Korea Selatan setelah mengalami kerugian sepanjang 2008.

Saya bermimpi, Indonesia membeli raksasa-raksasa bisnis Jepang, seperti Canon, Nikon, Sony, Panasonic, Toyota, Yamaha, Mitsubishi, Suzuki, Minolta, Kawasaki, Sanyo, Casio, Toshiba dan lain-lain.

Kita bisa lihat Sony di Jepang, yang merupakan perusahaan elektronik terbesar, kini juga sudah mengumumkan gelombang PHK menyusul kesulitan finansial karena mengalami kerugian tahunan pertama setelah 14 tahun.

Sony mengambil langkah mempertahankan tingkat profitabilitas dan menjaga agar terhindar dari kebangkrutan. CEO Sony mengumumkan perusahaan itu akan menutup satu dari dua pabrik TV mereka setelah penjualan TV LCD Bravia tidak berjalan maksimal akibat resesi.

Perusahaan ini juga akan melakukan PHK 2.000 karyawan. Panasonic dan Sharp juga mengalami keadaan yang sama.

Saya bermimpi, Indonesia bangkit, bangsanya sadar untuk tidak terus menerus didikte bangsa-bangsa asing. Saya bermimpi, bangsa Indonesia mampu mengelola kekayaan alam luar biasa yang dianugerahkan Tuhan bagi Indonesia.

Saya bermimpi, bangsa Indonesia mau belajar dan terus belajar, mau menimba sebanyak-banyak ilmu, mau untuk tidak bersifat rakus dan mementingkan diri sendiri, mau bersatu membangun ekonomi bangsa.

Saya bermimpi, Indonesia tidak lagi mengirim TKI yang mudah dibodohi, disiksa, diperkosa, bahkan dibunuh sesukanya tanpa perlindungan sama sekali dari negaranya. Saya bermimpi, bangsa Indonesia tidak lagi dileceh bangsa-bangsa lain.

Tapi saya bermimpi, bangsa Indonesia berada di seluruh penjuru dunia untuk mengelola dan menciptakan nilai tambah bagi kelangsungan hidup dunia, demi kejayaan Indonesia.

Saya bermimpi, Indonesia menjadi bangsa yang produktif, pandai menciptakan nilai tambah, tidak ada diskriminasi, dan semua anak-anak bangsa memiliki kebanggaan pada Indonesia, memiliki semangat bela negara yang tinggi.

Indonesia menjadi bangsa yang malu untuk korupsi, karena setiap anak bangsa mampu menciptakan nilai tambah, produktif dan cinta Indonesia.

Saya bermimpi, Indonesia menjadi bangsa yang tidak lagi minder dan kuper alias kurang pergaulan alias bagai katak dalam tempurung.

Saya bermimpi, Indonesia membeli dan menguasai Temasek, Khasanah, Chaebol dan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia yang kini bangkrut.

Dalam pemilu ini kita, bangsa Indonesia harus memilih presiden yang tidak ditunggangi asing, yang kampanyenya tidak didanai asing, bukan boneka asing yang selalu didikte negara asing. Dengan begitu, akan semakin banyak orang-orang Indonesia yang terserap untuk bekerja. Indonesia juga akan semakin jaya, dan tidak diremehkan oleh negara- negara lain seperti yang sekarang kita alami.

Jangan salah memilih calon presiden yang tidak bijaksana. Dalam pemilu inilah momentumnya, salah memilih presiden, maka Indonesia akan kehilangan momentum menjadi bangsa yang mulia di dunia. Pikirkan masak-masak sebelum memilih, pilihlah calon presiden yang bisa membawa Indonesia menjadi bangsa mandiri, menjadi Indonesia Jaya. (*)

* Penulis adalah Managing Partner Strategic Indonesia


Majapahit. MOJOKERTO - Bekas kejayaan Kerajaan Majapahit kembali ditemukan. Sedikitnya lima buah sumur kuno ditemukan warga di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sayangnya, temuan itu masih belum ditindaklanjuti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) setempat.

Lima sumur peninggalan Kerajaan Majaphit itu ditemukan Kandeg Suyanto, warga setempat. Benda bersejarah itu ditemukan di areal persawahan yang kini dipakai sebagai lokasi pembuatan batu bata oleh warga setempat. Sumur ditemukan secara bertahap dan dalam jarak yang berdekatan.

"Dari penemuan sumur yang pertama hingga yang terakhir membutuhkan waktu sekitar satu pekan," terang Kandeg saat ditemui di lokasi, Selasa (04/08/2009).

Penemuan itu berawal saat ia hendak mencangkul tanah untuk bahan batu bata. Mata cangkulnya tiba-tiba tertuju pada benda keras, yang ternyata adalah tumpukan batu bata. Setelah digali dengan hati-hati, ternyata batu bata itu adalah bibir sumur yang berdiameter 50 sentimeter dengan ketinggian sekira 1 meter.

"Dari lima sumur itu, satu di antaranya masih mengeluarkan air," katanya sembari menunjuk salah satu sumur yang belum tergali secara utuh.

Tak hanya sumur, Kandeg juga menemukan sebuah umpak kuno yang terbuat dari batu andesit. Juga beberapa batu aneh yang dipastikan sebagai benda bersejarah. Dia mengaku telah melaporkan temuan itu kepada pihak BP3 Trowulan agar segera mendapatkan perhatian. Menurutnya, dua hari lalu ada beberapa petugas dari BP3 Trowulan yang mengunjungi lokasi temuan itu. "Katanya akan diteliti. Tapi sampai sekarang belum ada tembusan lagi," tukasnya.

Meski belum mendapati kepastian atas benda temuannya itu termasuk berapa imbalan yang diberikan oleh BP3 kepadanya namun, Kandeg mengaku akan tetap menjaga benda bersejarah yang diperkirakan berada di pemukiman zaman kerajaan itu. Dia tetap berharap ada perhatian dari pihak BP3. Selama ini, tak ada penghargaan dari BP3 meski banyak warga yang menemukan benda bersejarah, katanya.

Kandeg lantas menyebut temuan berupa tembok kuno dengan panjang 100 meter lebih, tinggi 1,5 meter dan lebar 1 meter beberapa waktu lalu. Meski telah mencurahkan keringat sekitar sebulan lebih, pihak BP3 sama sekali tak memberikan imbalan sekadar pengganti lelah.

Justru imbalan itu dia terima dari Dinas Pariwisata (Disparta) setempat. "Tak hanya saya, ada salah satu warga yang menyerahkan 30 jenis patung kuno. Tapi sama sekali tak mendapatkan imbalan. Setelah menemukan tembok kuno dulu, saya pernah dijanjikan kerja oleh BP3. Tapi sampai sekarang belum terealisasi," katanya.

Temuan seperti ini kata dia, sebenarnya sering terjadi. Hampir setiap perajin batu bata selalu menemukan benda bersejarah baik berupa sumur, patung, mangkuk dan peralatan rumah tangga lainnya. Namun oleh warga, temuan itu dijual kepada pihak ketiga lantaran kecewa dengan BP3. "Jika ada perhatian dari BP3, saya yakin banyak warga yang mau menyerahkan benda temuannya," cetusnya.

Kepala BP3 Trowulan, Aris Soviani mengatakan, pihaknya telah menerjunkan petugas di lokasi temuan sumur itu. Menurutnya, ada dua jenis sumur yang ditemukan Kandeg itu, yakni jenis sumur yang terbuat dari batu bata, dan sumur jobong. "Jenisnya berbeda. Ini masih kita teliti untuk mengambil langkah selanjutnya," terang Aris.

Dugaan sementara dari hasil tinjauan pihaknya dua hari lalu, sumur-sumur itu dibuat pada zaman Majapahit. Lokasi sumur diduga sebagai pemukiman, karena salah satu ciri pemukiman terdapat banyak sumur. "Kami menduga, lokasi itu adalah catus patha atau perempatan agung Majapahit. Dan lokasi ini masih terkait dengan tembok besar yang ditemukan sebelumnya," tukasnya.

Sementara di lokasi penemuan sumur itu memang banyak ditemukan sumur. Sebelumnya, dua sumur juga ditemukan warga yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari sumur temuan Kandeg. Beberapa bangunan batu bata juga dengan mudah ditemukan di lokasi yang sudah rusak akibat penggalian tanah secara sporadis oleh perajin batu bata itu. (tritus julan)

Majapahit. Oleh : Ngarayana
Sejak hampir sepuluh tahun yang lalu para tokoh-tokoh di Bali selalu mendengung-dengungkan kata “Ajeg Bali”. Istilah ajeg Bali dicetuskan oleh seorang bos media masa Bali Post, dan Bali TV asal Lumajang, Tabanan. Ide awal didengungkannya istilah ajeg Bali ini adalah dari kekawatiran akan lenyap dan tergerusnya budaya Bali dari pulau Bali mengingat rongrongan budaya asing yang begitu kuat. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa jika pemuka masyarakat Bali hanya berpangkutangan menyaksikan getolnya para misionaris dan kaum dakwah melebarkan sayapnya di pulau Bali, maka pulau Bali hanya akan tinggal kenangan. Namun, sudahkan usaha Ajeg Bali yang berlangsung hampir sepuluh tahun ini menunjukkan buahnya?

Seorang editor majalah News Week yang juga merupakan salah seorang keturunan keraton Solo, Surya Sasongko bercerita disela-sela kesibukannya mengurus Art Shop miliknya yang berlokasi tidak jauh dari alun-alun utara keraton Jogja. Beliau mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi Indonesia dan Bali saat ini. Beliau menceritakan tiga puluh tahunan yang lalu saat diajak ibu dan ayah tirinya ke Amerika Serikat, beliau masih melihat budaya Indonesia yang sangat menawan. Beliau melihat pulau Bali masih “cukup perawan”, indah dan masih layak menyandang predikat pulau Dewata. Namun apa yang terjadi saat beberapa tahun yang lalu ketika beliau kembali ke Indonesia? Katanya, Indonesia benar-benar berubah 180 drajat. Kota Solo dan Jogja yang dulunya dipenuhi dengan penduduk yang mengagungkan budaya jawa dan kearifan lokal telah berubah menjadi tidak ubahnya seperti negara Arab. Pulau Bali yang dulu masih asri, dihiasi dengan banyak pura, arsitektur Bali dan penduduknya yang ramah sekarang dihiasi dengan banyak bangunan-bangunan suci “tetangga”. Kota Denpasar yang dulunya hening dengan kidung dan geguritan lokalnya sekarang riuh dengan “irama import”. Penduduknya yang dulunya terkenal jujur dan ramah sekarang sudah menjadi acuh tak acuh. “Kemanakah Jogja, Solo dan Bali yang dulu saya kagumi?” Ujarnya. Tentunya bapak Surya Sasongko bukanlah satu-satunya orang yang merasakan fenomena ini, saya yakin anda semua yang sudah lama merantau keluar Bali atau Indonesia dan memandang secara flash back kondisi Indonesia dan Bali saat ini akan mengungkapkan hal yang serupa.

Lalu apa yang salah dengan ajeg Bali? Apakah program ajeg Bali terlambat mengatasi pengaruh negatif dari luar ataukah ajeg Bali memang tidak punya daya dan mandul?

Ada sangat banyak tokoh-tokoh Bali yang tanpa pambrih berusaha keras memperjuangkan kelestarian pulau Bali, tetapi ternyata usaha-usaha mereka tetap seperti jalan ditempat. Karena itu pastilah ada yang salah dengan slogan ajeg Bali yang senantiasa kita dengung-dengungkan selama ini.

Pada dasarnya Bali masih ada sampai saat ini hanya karena beruntung. Bali tetap ada lebih karena power dari luar, bukan karena inner power yang masyarakat Bali miliki. Sebagaimana surat berupa lontar bertanggal 1935 yang disampaikan raja Kelungkung selaku wakil raja-raja Bali kepada orang-orang Portugis di Malaka dimana dia menyatakan “Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang datang ke pelabuhan ini untuk berdagang. Saya pun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen”. Namun untungnya pada masa itu penjajahan kolonial Hindia Belanda menetapkan undang-undang yang melarang para misionaris melakukan kristenisasi di Bali sebagai mana yang tercantum dalam pasal 177. Andaikan saja Belanda tidak melindungi Bali pada waktu itu, maka sebagian besar masyarakat Bali sudah menjadi Kristen. Kenyataan ini dapat kita saksikan pada saat undang-undang pelarangan Kristenisasi dicabut dan para misionaris dengan leluasanya menyebarkan ajarannya di Bali dalam waktu singkat beberapa banjar di daerah Dalung menyatakan diri sebagai Kristen. Keberadaan mereka menjadi samar-samar setelah adanya program transmigrasi dimana sebagian dari mereka ikut terbawa dan menyebar ke luar Bali.

Dewasa ini, pertahanan budaya Bali yang terakhir hanyalah sistem adat hasil kerja keras Mpu Kuturan beberapa ratus tahun yang lalu. Masyarakat adat sering kali memberikan sangsi moral kepada penduduknya yang keluar dari adat. Namun apakah sistem adat ini masih relevan dengan kondisi Bali yang saat ini sudah dipenuhi oleh pendatang?

Saat ini sistem adat bahkan diindikasikan menjadi titik lemah dalam pelestarian Bali di beberapa daerah, terutama di daerah perkotaan karena adat hanya membebankan kewajiban secara parsial kepada orang-orang yang bermukim di daerahnya. Para pendatang sama sekali tidak terkena hak dan kewajiban dari adat, sehingga implikasinya, sering kali terjadi kecemburuan sosial bagi masyarakat asli dan merupakan celah lebar untuk keluar dari adat. Orang Bali tidak ubahnya hanya dijadikan sapi perah yang menelurkan berbagai seni budaya dan hanya dijadikan “objek pertunjukan” bukan sebagai subjek. Subjek penikmat dari semua itu hanyalah para investor asing. Oleh karena itu, beberapa masyarakat Bali intelek tetapi tidak dibekali dengan pemahaman agama yang baik sering kali berkata; “Buat apa mengikuti kewajiban adat yang sangat memberatkan kalau seandainya keluar dari adat dengan cara menjadi pemeluk agama lain tidak masalah sebagaimana halnya penduduk pendatang?”. Dengan kondisi ini, siapa yang akan kita salahkan?

Para misionaris yang memiliki pendanaan yang sangat besar saat ini sangat aktif bergerilia “menyelamatkan” masyarakat Bali. Sektor pendidikan dan ekonomi mereka sudah mencengkram Bali. Mereka lebih sering mempengaruhi masyarakat yang secara ekonomi terbelakang dan juga masyarakat yang merasa terbebani oleh adat. Bahkan kesulitan akan area pemakaman yang dulu pernah terjadi karena adat melarang penduduknya yang berada di luar adat dimakamkan di sana telah teratasi dengan penyediaan area pemakaman khusus bagi mereka yang keluar adat. Bagaimana tidak, walaupun secara hukum adat semua tanah yang terletak di wilayah adat adalah milik adat, namun apakah itu sejalan dengan hukum kepemilikan tanah di negara kita? Jadi wajar kita pura dan kuburan masyarakat Bali dibeli dan dijadikan “tempat ibadah dan kuburan lain”. Sementara itu untuk menyiasati kemelekatan masyarakat Bali pada aspek budaya yang dianggap unggul dan memiliki nilai jual keluar, para misionaris juga melakukan pendekatan budaya. Mereka melakukan promosi agama dengan memperlihatkan akulturasi dengan budaya Bali, mulai dari seni tari, musik sampai kepada tempat sembahyang yang “disamarkan” menyerupai “pura”, tetapi berlambang salib. Benar-benar kamuflase yang luar biasa yang siap mengecoh para masyarakat Bali yang “bodoh”.

Lalu bagaimana menyiasati masalah ini? Dapatkah masyarakat Bali tetap bertahan dengan keindahan adat istiadat, kesenian dan budayanya tanpa adanya Hindu di sana? Apakah dengan menggantikan sistem kepercayaan Hindu dengan agama lain seperti contohnya kepercayaan Kristen kedalam budaya Bali akan menyelamatkan Bali dari kehancuran?

Untuk mencoba membuat hipotesis akan hal ini, mari kita coba melihat sejarah Bali ke belakang. Apa dan bagaimana Bali di bangun serta apa yang menjadi daya jual Bali kepada masyarakat macanegara.

Terlepas dari kontroversi bagaimana sejarah Bali sebelum adanya hubungan pulau Bali dengan kerajaan-kerajaan dari jawa, tercatat bahwa pada masa pemerintahan Mpu Sendok (988 M) di Bali sudah berkembang ajaran Veda yang sangat kuat. Hampir semua cabang aliran Veda berkembang subur di pulau Bali. Tercatat bahwa ada sembilan paksa yang berbeda yang berkembang saat itu, yaitu : Siwa, Khala, Brahma, Wisnu, Bayu, Iswara, Bhairawa, Ghanapatya, dan Sogotha (Buddha). Bahkan jauh sebelum itu ternyata sudah terjadi hubungan yang sangat erat antara Bali dengan orang-orang dari berbagai belahan di dunia, termasuk India dan China yang dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan-peninggalan lontar dari sekitar gunung Batu Karu, Tabanan. Lontar tersebut mengisahkan bahwa pulau Bali sudah menjadi tujuan dharma yatra dan pertapaan orang-orang suci sejak dahulu kala. Lontar tersebut juga memberikan informasi yang mengatakan bahwa di Bali sudah berkembang dua pedepokan spiritual dan oleh kanuragan yang disegani di seluruh penjuru dunia, yaitu perguruan Bulan Matahari dan perguruan Bulan Sabit. Hanya saja akibat permusuhan yang tidak berkesudahan akhirnya kedua perguruan ini berperang sampai titik penghabisan sehingga hampir tidak ada satupun dari mereka yang selamat. Namun dikatakan bahwa ternyata ada seorang murid Perguruan Bulan Sabit Cabang Seruling Dewata yang selamat dari perang tersebut walaupun dengan luka yang teramat parah. Murid inilah yang akhirnya melahirkan perguruan silat, tenaga dalam dan meditasi “Suling Dewata” sebagaimana yang bisa kita temukan di Batu Karu saat ini. Disana juga dikatakan bahwa ajaran Kung Fu Shaolin memiliki kaitan yang sangat erat dengan ilmu pencak silat tersebut.

Pada saat pemerintahan raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni, terjadi banyak kemelut di pulau Bali. Raja kesulitan dalam mengendalikan rakyatnya baik karena adanya banyak masab dan juga karena tingkah polah masyarakatnya. Untuk mengatasi kemelut tersebut, raja suami istri ini mengundang Sang Catur Sanak dari Panca Tirta (empat dari lima pandita bersaudara putra Mpu Lampita) di Jawa timur yang telah terkenal keahliannya dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka adalah para Mpu yang datang secara bertahap, kemudian mendampingi pemerintahan raja dan ratu ini di Bali. Para Mpu ini antara lain Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan mpu Genijaya. Yang paling bungsu, Mpu Bharada tidak ikut ke Bali. Beliau tetap tinggal di Lemah Tulis, Pajarakan, Jawa Timur dan kemudian menjadi purohito kerajaan Daha pada masa pemerintahan Raja Sri Airlangga.

Kedatangan empat Mpu ini ke Bali membawa perubahan dan angin segar bagi pulau ini. Sebab empat Rohaniawan ini bukan saja ahli di bidang Agama, namun juga menguasai berbagai hal dan keahlian yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan. Seorang yang menonjol dalam berbagai bidang keahlian diantara keempat pandita itu adalah Mpu Kuturan. Pada masa pemerintahan raja dan ratu ini, Mpu Kuturan selain diangkat menjadi Purohito di Kerajaan Bali, Mpu Tuturan juga memegang beberapa jabatan penting, yaitu sebagai Senapati Kerajaan yang bergelar Senapati Kuturan dan sebagai Ketua majelis Pakira-kira I Jro Makabehan yang beranggotakan seluruh senapati, Pandita Dangacarya dan Dangupadhyaya dimana majelis ini bertugas sebagai lembaga tinggi kerajaan yang berfungsi untuk memberikan nasehat dan pertimbangan kepada Raja, serta melakukan pembinaan di segala bidang, untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat.

Atas persetujuan Raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni, Mpu Kuturan mengadakan penelitian untuk mencari akar permasalahan yang sedang melanda kerajaan. Dari sini Mpu Kuturan banyak mendapat informasi, data, dan fakta yang sangat bermanfaat tuntuk mengatasi kemelut yang terjadi di masyarakat. Saat itu beliau menemukan kiat untuk mengatasi kemelut di masyarakat dan memandang perlu untuk melakukan perubahan di masyarakat. Akhirnya Mpu Kuturan melakukan Pesamuan Agung (rapat besar) dengan mengambil tempat di Bataanyar (kini Gianyar). Saat itu ada 1370 desa di seluruh Bali yang ikut dalam Pesamuan Agung ini. Pada saat pesamuan agung itu diundanglah tokoh-tokoh dari masing-masing kelompok dan masyrakat. Peserta Pesamuhan Agung tersebut telah siap dan telah membawa konsep dari masing-masing kelompok yang di ajukan dan dibicarakan dalam Pesamuan Agung tersebut. Kepada hadirin diberikan kebebasan dalam menyampaikan pendapat, pandangan, dan gagasan masing-masing. Semua pendapat dan pandangan ditampung oleh Mpu Kuturan selaku ketua Pesamuhan Agung. Mpu Kuturan juga menyampaikan pendapat dan pandangannya, bahwa perlu diadakan perubahan–perubahan serta mengatur kembali tatanan kehidupan masyarakat dengan suatu peraturan dengan berdasarkan situasi dan kondisi serta aspirasi dari masyarakat. Sidang menerima pandangan Mpu Kuturan dengan suara bulat. Akhirnya dalam Pesamuan Agung ini, diambil keputusan yang memuat beberapa jenis bidang, yaitu;

1. Paham Tri Murti dijadikan dasar pemujaan pada Visnu, Brahma dan Siva karena dianggap dapat mencakup paham dan aliran kepercayaan yang berkembangan di Bali pada saat itu, terutama paham Sivaism dan Vaisnava yang merupakan paham terbesar saat itu.
2. Diadakan perubahan terhadap organisasi kemasyarakatan, dengan wadah yang disebut Desa Pekraman, dan untuk menerapan paham Tri Murti tersebut, didirikan tiga pura yang disebut pura Khayangan Tiga, yaitu: (a) pura bale agung atau pura desa sebagai tempat suci untuk memuliakan Dewa Brahma, yang bertugas sebagai pencipta alam material, (b) pura puseh sebagai tempat suci untuk memuliakan Sri Wisnu sebagai pemelihara alam semesta beserta isinya, (c) pura dalem atau pura hulu setra sebagai tempat suci untuk memuliakan dewa Siva dan saktinya Dewi Durga selaku pengembali unsur panca maha butha/ pralina. (d) Disamping itu, didirikan juga tempat suci di sawah, yang disungsung oleh krama subak, kemudian dalam sejarah perkembangannya berubah nama jadi desa adat.
3. Pada setiap rumah tangga di wajibkan mendirikan sebuah pelinggih berbentuk Rong Tiga (Rong Telu), sebagai tempat memuliakan dan memuja roh suci para leluhur dan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebutan lain dari rong tiga adalah kemulan yang terdapat dalam setiap sanggah atau merajan.
4. Semua tanah pekarangan dan tanah yang terletak di desa pakraman dan pura khayangan tiga adalah milik desa pakraman yang juga berarti milik kayangan tiga, oleh sebab itu, tanah-tanah ini tidak boleh dijual – belikan.

Jika kita perhatikan dalam hasil pesamuhan agung tersebut terlihat jelas bagaimana usaha Mpu Kuturan menyatukan masyarakat agar dapat bermasyarakat secara lebih kompak dalam berbagai lini kehidupan sosioreligius, dan hal inilah yang menjadi warisan tak ternilai bagi masyarakat Bali saat ini. Hal yang menarik disini, ternyata Mpu Kuturan tidak semata-mata ingin menyatukan berbagai aliran yang berbeda dan mewujudkan masyarakat yang harmonis secara material, tetapi juga mengembalikan kehidupan masyarakat Bali yang pada waktu itu dapat dikatakan kacau untuk kembali ke dalam ajaran Veda yang otentik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya indikasi sebagai berikut:

a. Penyembahan kepada para dewa dialihkan menjadi penyembahan kepada Tuhan Yang Esa yang disebut sebagai Sang Hyang Widhi Wasa (Widhi = Vidhi = Yang Maha Kuasa).
b. Meskipun masyarakat diarahkan untuk bersembahyang bersama-sama dalam khayangan tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem), namun secara cerdas Mpu Kuturan telah membagi area desa pekraman kedalam tiga area, yaitu Utama Mandala dan Madya Mandala yang merupakan area pura Desa dan Pura Puseh dan Jaba mandala yang merupakan daerah pemukiman, pertanian, kuburan dan termasuk pura Dalem yang selalu terletak dekat dengan kuburan. Yang distanakan di Pura Desa (utama mandala) adalah Sri Visnu Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan original creator of all think. Dewa Brahma yang merupakan mahluk hidup pertama dan bertindak sebagai second creation diposisikan di pura puseh (madya mandala) dan Dewa Siva yang juga merupakan Tama Guna Avatara diposisikan dekat dengan kuburan. Konsep penempatan arena pemujaan ini sangat sesuai dengan sastra Veda (Tri Guna Avatara).
c. Dalam tataran rumah tangga, dengan pembangunan tempat suci keluarga berupa rong tiga akhirnya mendorong setiap orang memuja Tuhan Yang Esa yang disebut Hyang Widhi.
d. Padmasana juga didirikan dengan menempatkan Kurma Avatara (penjelmaan Tuhan) sebagai dasar dan menempatkan Burung Garuda Visnu di bagian belakangnya.
e. Semua mantra-mantra dalam upacara juga menggunakan kata “Om Tat Sat”, yang mengacu kepada Tuhan, Bhagavan. Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavad Gita 17.23; “17.23 Sejak awal ciptaan, tiga kata om tat sat digunakan untuk menunjukkan kebenaran Mutlak yang paling utama. Tiga lambang tersebut digunakan oleh para brahmana sambil mengucapkan mantra-mantra veda dan pada waktu mengaturkan korban suci untuk memuaskan yang Mahakuasa”.
f. Konsep Garuda Visnu Kencana juga menjadi maskot Bali yang paling utama.

Intinya, beberapa indikasi “terselubung” tersebut mengarahkan masyarakat Bali kembali ke ajaran Veda dan hal inilah yang menjadi pondasi dasar dalam budaya Bali. Lalu mungkinkah budaya Bali dipertahankan jika pondasi dasarnya, yaitu Veda tergerus dan hilang dari Bali dan digantikan dengan dasar agama yang lain?

Jika kita ingin membangun Bali dari awal dengan wajah yang berbeda yang sudah barang tentu tidak akan sama dengan Bali yang dibangun oleh Mpu Kuturan, maka tidaklah masalah menggantikan ajaran Veda dengan ajaran yang lain. Namun jika kita menginginkan Bali yang ajeg yang sebagaimana yang ada sekarang dan sebelumnya, maka tidak ada opsi lain kecuali kembali ke ajaran Veda. Pura kayangan tiga tidak akan bermakna jika dirubah menjadi tempat suci lain, malahan akan mengacaukan konsep Tri Mandala. Garuda Visnu Kencana yang mendunia tidak akan berarti apa-apa jika di “jidat”-nya harus dipahat lambang agama non Vedic. Padmasana akan kehilangan roh-nya jika lambang Tuhan yang disebut “Acintya” digantikan dengan salib. Seni tari dan lukisan yang didasarkan pada Hindu akan menjadi tanpa makna jika pondasi ajaran Hindu dihilangkan.

Jadi, jika anda adalah pemuda Bali atau orang yang masih menginginkan Bali terus ada, kembalilah ke ajaran Veda, gunakan Veda sebagai pondasi dalam melakukan berbagai hal di Bali. Membanggakan seni budaya dan keindahan Bali tanpa menjaga roh-nya, Veda hanyalah merupakan kebanggaan semu. Lalu bagaimana langkah kongkrit kembali ke ajaran Veda? Terapkan ajaran-ajaran dasar dari Veda. Segera hentikan segala tindakan yang menyimpang dari ajaran Veda seperti;

a. Penyimpangan sistem Varna Asrama yang dijadikan sistem wangsa
b. Lenyapkan prostitusi, tindakan asusia dan segala hal yang bersifat asurik
c. Hentikan sambung ayam berkedok caru di pura-pura
d. Jangan menjadikan “mekemit” sebagai alasan untuk melakukan perjudian “ceki” atau domino di tempat suci.
e. Tegakkan desa pekraman dan sistem adat dengan benar. dll.

Intinya, mari kita bentengi Bali dari dalam dengan kembali ke basic, yaitu ke ajaran Veda yang otentik. Hilangkan kata-kata “nak mulo keto” (memang seperti itu) dari kamus kita, kembalikan sistem pendidikan gurukula (pasraman) dalam tatanan desa pakraman dan terapkan sistem Varnasrama dan Catur Asrama dengan tepat. Jika tidak, mari kita persiapkan hancurnya “Pulau Dewata” yang kita bangga-banggakan selama ini.

Majapahit. Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri pada sekitar tahun 1293 hingga tahun 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk yang berkuasa dari tahun 1350sampai dengan tahun 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lain di semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali dan Filipina. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yg menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo hingga Indonesia timur meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Sejarah Kerajaan Majapahit
Terdapat sedikit bukti fisik sisa-sisa kebesaran Kerajaan Majapahit dan sejarah yang tidak jelas. Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton - Kitab Raja-raja dalam bahasa Kawi dan Nagara Kertagama dalam bahasa Jawa Kuno. Pararaton terutama menceritakan tentang Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Kerajaan Majapahit. Sementara itu Nagara Kertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Kerajaan Majapahit yang berada di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.

Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut banyak dipertentangkan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Beberapa sarjana seperti C.C. Berg menganggap semua naskah tersebut bukan catatan masa lalu tetapi memiliki arti supranatural dalam hal ini dapat meramalkan / mengetahui masa depan. Namun demikian banyak pula sarjana yang beranggapan bahwa garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok khususnya mengenai daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.

Sejarah Pendirian Kerajaan Majapahit
Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290 Singhasari menjadi kerajaan yang paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajah dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa pada tahun 1293. Ketika itu Jayakatwang, adipati Kediri telah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi wilayah di hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun sebuah desa baru. Desa itu diberi nama Majapahit yang nama nama tersebut diambil dari nama buah maja dan yang memiliki rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongolia tiba, Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongolia untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongol sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukan yang secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka utk menangkap angin muson agar dapat pulang atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal pasti yg digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi berbagai masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa termasuk Ranggalawe, Sora dan Nambi memberontak, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha-lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang terpercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara dan lalu dihukum mati. Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Anak dan penerus Raden Wijaya, Jayanegara adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet yg berarti "penjahat lemah". Pada tahun 1328 Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca. Ibu tiri yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikan, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuan Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia kemudian digantikan oleh putra Hayam Wuruk.

Kejayaan Kerajaan Majapahit
Hayam Wuruk juga disebut sebagai Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masa Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatih Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364) Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Pada tahun 1377 beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Jenderal terkenal Majapahit lain adalah Adityawarman yang terkenal karena penaklukan di Minangkabau.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampak tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja[14]. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan dan Vietnam dan bahkan mengirim duta-duta ke Tiongkok.

Keruntuhan Majapahit
Sesudah mencapai puncak kejayaannya, pada abad ke-14 kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampak terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yg dipertengkarkan pada tahun 1450-an dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041 yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 pengaruh Kerajaan Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam yaitu Kesultanan Malaka mulai muncul di bagian barat nusantara.

Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires) dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari Kesultanan Demak antara tahun 1518 dan 1521 M.

Sistem Perekonomian Majapahit
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu adalah lada, garam, kain dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impor adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik dan barang dari besi. Mata uang dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam dan tembaga. Selain itu catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321 menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas perak dan permata.

Kebudayaan Majapahit
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan tiap tahun. Agama Buddha, Siwa dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit dan raja dianggap sekaligus sebagai titisan Buddha, Siwa maupun Wisnu.

Walaupun batu bata telah digunakan dalam pembuatan candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yg paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan Mojokerto.

Struktur Pemerintahan Majapahit
Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan tampak struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya[21]. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat dibawah, antara lain yaitu:

a. Rakryan Mahamantri Katrini biasa dijabat putra-putra raja
b. Rakryan Mantri ri Pakira-kiran dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
c. Dharmmadhyaksa para pejabat hukum keagamaan
d. Dharmma-upapatti para pejabat keagamaan
Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja yang disebut sebagai Bhattara Saptaprabhu.

Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti dan pertahanan kerajaan di wilayah masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:

a. Kelinggapura
b. Kembang Jenar
c. Matahun
d. Pajang
e. Singhapura
f. Tanjungpura
g. Tumapel
h. Wengker
i. Daha
j. Jagaraga
k. Kabalan
l. Kahuripan
m. Keling

Raja-raja Majapahit
Berikut adalah daftar penguasa Kerajaan Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.

a. Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
b. Kalagamet bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
c. Sri Gitarja bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
d. Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
e. Wikramawardhana (1389 - 1429)
f. Suhita (1429 - 1447)
g. Kertawijaya bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
h. Rajasawardhana bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
i. Purwawisesa atau Girishawardhana bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
j. Pandanalas atau Suraprabhawa bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
k. Kertabumi bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
l. Girindrawardhana bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
m. Hudhara bergelar Brawijaya VII (1498-1518)

Warisan Sejarah Kerajaan Majapahit
Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa-bangsa Nusantara pada abad-abad berikutnya.

Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungannya ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunan melalui Kertabhumi; pendiri Raden Patah menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para raja dengan keluarga kerajaan Majapahit sering kali dalam bentuk makam leluhur yang di Jawa merupakan bukti penting dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan Majapahit.

Para penggerak nasionalisme Indonesia modern termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20 telah merujuk pada Majapahit sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an Partai Komunis Indonesia menyampaikan visi tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa sedangkan Orde Baru menggunakan untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara. Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.

Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali masa kini.

Pada zaman Majapahit terjadi perkembangan pelestarian dan penyebaran teknik pembuatan keris berikut fungsi sosial dan ritualnya. Teknik pembuatan keris mengalami penghalusan dan pemilihan bahan menjadi semakin selektif. Keris pra-Majapahit dikenal berat, namun semenjak masa kini dan seterusnya bilah keris yang ringan tetapi kuat menjadi petunjuk kualitas sebuah keris. Penggunaan keris sebagai tanda kebesaran kalangan aristokrat juga berkembang pada masa ini dan meluas ke berbagai penjuru Nusantara terutama di bagian barat. Selain keris, berkembang pula teknik pembuatan dan penggunaan tombak.

Meskipun tidak ada bukti tertulis, banyak perguruan pencak silat di Nusantara mengklaim memiliki akar tradisi hingga ke zaman Majapahit. Sebagai suatu rezim ekspansionis tentara Majapahit dapat diduga memiliki kemampuan bertempur yang lebih handal daripada bawahan-bawahannya.

Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi, tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya utk menuangkan kreasi terutama di Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa karya seni Kerjaan Majapahit yang berkaitan dengan masa tersebut.

a. Serat Darmagandhul sebuah kitab yang tidak jelas penulisnya, karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama sinkretis "Buda" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan sebagai umat Islam.
b. Serial "Mahesa Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai, mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal karier Mada (Gajah Mada), adik seperguruan Lubdhaka seorang rekan Mahesa Rani.
c. Komik/Cerita bergambar Imperium Majapahit karya Jan Mintaraga.
d. Komik Majapahit karya R.A. Kosasih
e. Strip komik "Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas" edisi Minggu menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji Koming.
f. Sandyakalaning Majapahit (1933) roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit karya Sanusi Pane.
g. Kemelut Di Majapahit roman sejarah dengan setting masa kejayaan Majapahit karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo.
h. Zaman Gemilang (1938/1950/2000) roman sejarah yang menceritakan akhir masa Singasari masa Majapahit dan berakhir pada intrik seputar terbunuh Jayanegara karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
i. Senopati Pamungkas (1986/2003) cerita silat dengan setting runtuhnya Singhasari dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara karya Arswendo Atmowiloto.
j. Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005) roman karya Hermawan Aksan tentang Dyah Pitaloka Citraresmi putri dari Kerajaan Sunda yang gugur dalam Peristiwa Bubat.
k. Gajah Mada (2005) sebuah roman sejarah berseri yang mengisahkan kehidupan Gajah Mada dengan ambisi menguasai Nusantara karya Langit Kresna Hariadi.
l. Tutur Tinular suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio. Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada pemerintahan Kertanegara hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
m. Saur Sepuh suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang populer pada awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
n. Walisongo sinetron Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di masa Brawijaya V hingga Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.


Majapahit. Pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 2010 (Hari Tumpak Wayang), suasana PURI SURYA MAJAPAHIT BALI yang didalamnya terdapat Pura Ibu Majapahit, nampak demikian ramai. Terdengar irama musik Barongsai yang meledak ledak diantara suasana langit yang mendung pekat dan diiringi oleh hujan rintik-rintik. Ketika itu, tepat pukul 19.00 WITA, Guruh Sukarnoputra bersama-sama dengan Sri Wilatikta Tegeh Kori Kepakisan I (Raja Majapahit Bali) beserta rombongan, tiba di Kraton Ibu Majapahit. Rombongan tersebut langsung disambut oleh Hyang Bhatara Agung Surya Wilatikta Brahmaraja XI (Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini), dan beberapa saat kemudian mereka sudah duduk bersila di Pendopo Agung Majapahit. Ucapan Selamat datang yang disampaikan oleh Empu Pandita Agung Majapahit GRP Prawirodipoero diteruskan dengan mengheningkan cipta yang diperuntukkan bagi Para leluhur, termasuk untuk mengenang Bung Karno sebagai leluhur Bangsa Indonesia.


Dalam sambutannya, Raja Abhiseka Majapahit Brahmaraja XI yang dipanggil sebagai Guruh Hyang Surya ini terdengar sangat lucu dan ilmiah. Dikatakan bahwa sebelum Guruh Sukarnoputra tiba, suasana alam sedemikian mendung dan di langit terdengar suara guruh yang berkepanjangan "Grudug...Grudug...Grudug..." di Langit dan cahaya halilintar menggelegar " Pyar...Pyar...Pyar" di bagian selatan Keraton, hal ini sangat mirip dengan Guruh yang Maestro Seni, bila Suara Mahardhika [Sanggar Seni Tari Guruh] mengadakan pertunjukan, maka suara musiknya terdengar berdentam-dentam kemudian sinar lampu sorotpun berkerlap-kerlip berganti-ganti warna. Hal ini sangat mirip dengan suasana alam yang bergemuruh. Hal inilah yang membuat para pengunjung turut bersorak-sorai penuh dengan tawa. Akan tetapi Brahmaraja kelihatan demikian serius dan mengatakan ini adalah ilmiah dan kasunyatan karena memang demikianlah guruh di langit pada saat itu. Yang kemudian membuat para pengunjung kembali terdiam hening.


Lebih jauh dijelaskan bahwa Guruh adalah putra pendiri Republik Indonesia (Bung Karno), Manusia Tersakti dan terpandai di dunia, dimana jumlah titel DOKTOR Bung Karno sebanyak 26 buah, jadi ini yang membuktikan bahwa Bung Karno orang yang terpandai, kemudian dikatakan tersakti, karena Bung Karno yang sejak sangat muda sudah keluar-masuk Penjara untuk kepentingan Kemerdekaan Indonesia dan sampai dibuang ke Ende, ke Bengkulu sampai mengenal Ibu Fatmawati yang telah melahirkan Guruh. Setelah menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia yang didirikannya, Bung Karno mengalami penggranatan, penembakan dan berbagai usaha pembunuhan, akan tetapi Bung Karno tetap hidup dan ini telah membuktikan bahwa Bung Karno adalah Orang Tersakti. Namun yang paling ironis adalah bahwa justru Bung Karno meninggal di dalam Tahanan Republik Indonesia yang didirikannya.


Pada acara pertemuan ini Brahmaraja XI juga menyerahkan Cindramata berupa Patung Ganesa, simbul Dewa Terpandai dan Tersakti. Simbul Bung Karno yang diterima Guruh Sukarnoputra dengan gembira.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng Tumpak Wayang oleh Brahmaraja XI dan potongannya kemudian diserahkan kepada Guruh. Potongan tumpeng juga diserahkan kepada Raja majapahit Bali, Sri Wilatikta Tegeh Kori yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Marhaen yang didirikan oleh Bung Karno pada tahun 1963 dan kemudian berganti nama menjadi Universitas Mahendradata, karena pada saat itu nama Bung Karno dilarang dan dihapus dari sejarah oleh Pemerintah Orba. Pucuk Tumpeng kedua diserahkan kepada Ramessharty dari World Hindu Youth Organization.


Acara kemudian diteruskan dengan sambutan dari Raja Majapahit Bali yang menganjurkan agar Ajaran Bung karno tetap dilaksanakan dan dilestarikan termasuk Pancasila dan Kerukunan NASAKOM [Nasional Agama dan Komunis] yang pada saat ini kita sudah kembali rukun dengan Rusia dan China yang memakai sistem pemerintahan Komunis dimana pada era perdagangan bebas ini, China berhasil menguasai Dunia, dan kita harus bisa menerima kenyataan ini. Tepuk tangan para Pengunjungpun terdengar demikian menggema.

Pada kesempatan itu, Guruh membuat Prasasti yang berbunyi "Semoga Sinar Surya majapahit selalu bersinar di Nusantara dan Dunia". Sambil menyalami Hyang Surya, Guruh berucap : "Saya akan tetap memanggil Hyang Suryo saja, kan lebih Akrab".

Acara kemudian diteruskan dengan meninjau Musium Pura Ibu Majapahit, dimana pusaka-puasaka kembar Majapahit di pamerkan. Guruh nampak berdecak kagum ketika melihat pusaka langka tersebut akan tapi tetap sepasang dan Guruh selalu menancapkan dupa pada pusaka yang dilihatnya, karena pusaka adalah Warisan Leluhur yang harus dilestarikan, dan ketika sampai di depan Pratima Airlangga, Guruh berdoa dan menancapkan dupa kemudian memerciki Pratima Prabu Airlangga itu dengan Tirta sebanyak tiga kali. Dan beberapa saat kemudian Guruh memperoleh percikan Tirta di kepalanya sebanyak tiga kali dari tangan Brahmaraja XI, dan kemudian tirtha tersebut diminum sebanyak tiga kali, dan tirtha ke-empat diusapkan kewajahnya.


Acara kemudian diteruskan dengan melihat Keris Empu Gandring, pada saat itupun Guruh kembali menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa kagum akan keindahan keris yang belum sempurna dan bergambar Naga Kembar tapi nampak demikian indah.

Guruh kemudian berdoa di Gedong / Klenteng tempat leluhur putri yang dari China, menancapkan dupa dan kemudian memegang Pedang Kerajaan China, dimana Pedang ini banyak dipegang oleh Caleg [Calon Legislatif] Pemilu 2009 dan semua yang berhasil memegang Pedang ini bisa masuk menjadi pejabat legislatif.

Guruh kemudian berdoa dihadapan dawang berkepala naga yang biasanya menjadi Kaki Candi, yang berfungsi sebagai penguat agar candi tidak goyang dan Naga berfungsi sebagai Pengikat yang disebut sebagai Putaran Mandara Giri. Dawang (Kura-Kura) yang terbuat dari Batu Giok pada masa Peninggalan Dinasti MING berangka tahun 1482 ini, sangat mirip dengan Dawang yang dikendarai oleh Dewi Kwan Im Bertangan Seribu yang kalau di Bali disebut sebagai Durga Mahisa Nandini, yang sering juga diupacarai di Universitas Mahendradata.

Dengan dikawal oleh tarian Barongsai, akhirnya pada pukul 22.oo Guruh meninggalkan Puri Majapahit. Doa restupun disampaikan oleh Hyang Suryo yang ber-Abhiseka Sri Wilatikta Brahmaraja XI, sambil memohon agar selalu selamat dan sejahtra dalam perjuangan di Ranah Politik yang sedang diembannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] dan Majelis Permusyawarahan Rakyat [MPR] Republik Indonesia, untuk melaksanakan cita-cita Bung Karno sebagai Ayah Biologis dan Idiologis dimana Ajaran Sukarno [Sukarnoisme] bisa dilaksanakan. Karena terbukti ajaran Sukarnoisme masih relevan pada saat kondisi bangsa yang mulai terpecah-belah, serta kurangnya Cinta Tanah Air [Nasionalisme]. Kita harus Berdiri Diatas Kaki Sendiri [Berdikari] dalam Bidang Ekonomi yang juga pernah diajarkan oleh Bung Karno serta Menyatukan Nasional, Agama dan Komunis [NASAKOM] dimana pada dekade 1965-1966 yang lalu Nasionalisme dan Komunisme berhasil ditumpas oleh Islam dan kini hampir menjadi Negara Islam, dimana Gereja Kristen banyak di Hancurkan, bahkan dibom, kebebasan beragamapun di Pasung oleh Islam, bahkan kepercayaan dan budayapun dihancurkan dan dituduh sesat oleh Majelis Ulama Islam Indonesia [MUII] dan bahkan banyak hal yang diharamkan, agar dapat mengikuti Quran dan Hadist Arab.

Majapahit. Oleh : Suralaga.
Ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Brahman: Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman adalah hidup kita.

Kalimat sangkan paraning dumadi sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Jawa, terutama mereka yang mendalami ilmu spiritual. Ilmunya pun banyak yang menyebutnya dengan istilah ngelmu sangkan paran dengan manunggaling kawula lan Gusti sebagai pencapaian puncaknya. ini sangat sesuai dengan tuntunan Weda sehubungan dengan pelaksanaan dharma sadhana. Para rishi menyatakan bahwa kita bukan badan, pikiran atau emosi kita. Kita adalah jiwa-jiwa agung dalam perjalanan yang mengagumkan. Kita datang dari Brahman, hidup dalam Brahman dan berkembang menuju keesaan Brahman. Kita ada dalam kebenaran, Kebenaran yang kita cari-cari.

Kita adalah jiwa-jiwa abadi yang hidup dan tumbuh dalam langkah-langkah kemajuan yang mengagumkan dan pengalaman keduniawian di mana kita hidup menikmati Hidup. Para rishi Weda telah memberi kita keberanian dengan mengucapkan kebenaran sederhana, “Brahman adalah Hidup dan hidup kita.” Seorang siddhaguru membawa ini lebih jauh dengan mengatakan, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman: ”Brahman tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual Jawa disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman adalah hidup kita.

Brahman adalah hidup pada burung.
Brahman adalah hidup pada ikan. Brahman adalah hidup pada hewan. Menyadari akan energi Hidup ini pada semua makhluk, kita akan menyadari kehadiran kasih Brahman dalam diri kita. Kita adalah kesadaran dan energi kekal yang meliputi segala hal. Di sisi dalam, kita ini sempurna setiap saat, dan kita harus mengetahui dan berbuat sesuai dengan penyempurnaan ini agar menjadi murni. Energi kita dan energi Brahman adalah sama, tidak ada bedanya sama sekali. Kita semua adalah anak-anak manis dan Brahman. Setiap han kita harus berusaha melihat energi hidup di pepohonan, burung, hewan dan manusia. Bila hal ini kita lakukan, kita melihat Brahman sedang beraksi. Weda meyakinkan, dia mengetahui Brahman sebagai Hidup dari hidup. Mata dari mata, Telinga dari telinga, Pikir dari pikiran, dia sungguh memahami sepenuhnya Sebab dan semua sebab.

Kim semua tumbuh berkembang meritju Brahman. Dan pengalaman adalah - lannya. Ngelmu iku kelakone kanthi lab. tanpa laku tangeb lamun kelakon. “Laku adalah sadhana (disiplin kerohanian), dan orang yang sedang melaksanakan sadha yang ketat disebut nglakoni, misalnya: tapa mbisu (monabrata), nglelana (dharmayatra), mutih (hanya makan nasi dan minur air putih), ngrowot (hanya makan umbi-umbian), dan berbagai “laku” ekstrim, seperti: nglelana dengan hanya mengenakan cawat, mengemis, dan lain-lain yang bagi orang umum sangat nyeleneh yang sebenarnya dilakukan bukan untuk menjadi perhatian khalayak, tetapi untuk menyingkirkan ego yang melekat pada dirinya. Melalui pengalaman spiritual kita menjadi dewasa di sisi kerohanian. Keluar dari rasa takut menuju ketabahan. Keluar dari kemarahan menuju cinta kasih. Keluar dari perselisihan menuju perdamaian. Keluar dari kegelapan menuju kecerahan dan menyatu dalam Brahman.

Kita telah mengambil kelahiran di dalam tubuh fisik (tumimbal lahir) untuk tumbuh dan berkembang menuju energi potensial kita yang sangat hebat. Kita di dalam batin telah menyatu dengan Brahman. Agama Hindu berisi pengetahuan bagaimana cara menyadari keesaan ini dan tidak menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak dikehendaki.

Jalan yang terbaik adalah mengikuti jejak dari nenek moyang spiritual kita, menemukan arti penuh rahasia dari pustaka-pustaka Weda. Jalan yang terbaik adalah komitmen, belajar, disiplin, pengamalan dan matang dalam yoga menuju kearifan. Pada langkah-langkah awal, kita merasa menderita sampai kita menjadi terlatih. Pengetahuan Weda menuntun kita pada pelayanan; sepi ing pamrih rame ing gawe, dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual. Pelayanan menuntun kita pada pemahaman. Pemahaman menuntun kita pada meditasi yang mendalam dan tanpa gangguan. Akhirnya, meditasi menuntun kita berserah diri kepada Brahman. Ini adalah jalan lurus dan pasti, menuntun kita ke arah Guru Sejati, Sukma Jati, Kajaten, atau apa pun istilahnya yang tiada lain adalah kesadaran Atman tujuan hidup paling utama dan kemudian menuju moksha, terbebas dan reinkarnasi.

Weda secara bijaksana meyakinkan, “Dengan kecermatan, kebaikan diperoleh. Dari kebaikan, pemahaman dicapai. Dari pemahaman, Jati Diri diperoleh, dan dia yang mencapai kesadaran Atman dibebaskan dan putaran kelahiran dan kematian.”

Tarian Brahman
Semua gerakan berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman. Keseluruhan dari alam semesta terlibat dalam pusaran aliran dari perubahan dan aktivitas ini adalah tarian Brahman. Kita semua menari bersama Brahman, dan Dia bersama kita. Akhirnya, kita adalah tarian Brahman.

Dunia terlihat seperti tersebut di atas sesungguhnya adalah keramat, hanya ketika kita melihat tarian kosmis Brahman. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah pergerakan. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan; pusaran atom-atom dalam pergerakan. Semua pergerakan adalah tarian Brahman. Bila kita berusaha melawan pergerakan ini dan berpikir semestinya selain dari ini, kita dengan berat hati menari bersama Brahman. Kita dengan keras kepala menentang, menganggap diri kita terpisah, mengkritisi proses dan pergerakan alami sekeliling kita.

Dengan pemahaman kebenaran abadi tersebut kita bawa semua bidang pikiran kita ke dalam pengetahuan bagaimana cara menerima apa adanya dan tidak mengharapkan menjadi yang sebaliknya. Bilamana itu terjadi, kita mulai secara sadar untuk menari bersama Brahman, bergerak dengan aliran suci itu mengelilingi kita, menerima pujian dan cacian, kegembiraan dan duka-cita, kemakmuran dan kesulitan dalam ketenangan jiwa, buah dan pemahaman. Kita kemudian dengan anggun, tak kenal menyerah, menari bersama Brahman. Weda menyatakan, “Jiwa kosmis sesungguhnya adalah keseluruhan alam semesta, sumber abadi semua kreasi, semua aksi, semua meditasi. Siapapun menemukan Dia, tersembunyi jauh di dalam, memotong ikatan kebodohan, tenang selama hidupnya di dunia.”

Tarian adalah pergerakan, dan tarian paling sempurna adalah tarian sebaik-baiknya disiplin. Disiplin Spiritual Hindu menuntun ke arah keesaan dengan Brahman melalui refleksi diri, penyerahan diri, transformasi personal dan banyak yoga.

Untuk kemajuan di jalan ini, kita mempelajari Weda, buku-buku tentang disiplin spiritual Hindu dan guru-guru sadhana kita dan berusaha keras menerapkan kebenaran filosofis ini pada pengalaman hanian. Kita berusaha mengerti pikiran dalam alam rangkap empatnya, yaitu: chitta (kesadaran), manah (naluri), buddhi (akal budi), dan ahamkara (ego atau keakuan). Kita melakukan japa, meditasi dan yoga setiap hari. Disiplin spiritual seperti itu dikenal sebagai sadhana. Ini adalah latihan kebatinan, mental, fisik dan kebhaktian yang memungkinkan kita untuk menari bersama Brahman dengan membawa kemajuan sisi dalam, perubahan persepsi dan perbaikan karakter.

Sadhana memungkinkan kita untuk hidup dengan sifat jiwa yang sopan dan terpelajar. Lebih baik daripada sisi luar, naluriah atau bidang intelektual. Untuk kemajuan yang konsisten, sadhana harus dilakukan secara teratur, dengan pasti, pada waktu yang sama setiap hari, lebih baik pada jam-jam awal sebelum fajar. Sadhana paling utama adalah tantangan dan latihan yang diberikan oleh seorang guru sadhana. “Gusti” = bagusing ati (Brahman = kebijaksanaan), akronim seperti itu sesuai dengan pesan Weda. Weda memperingatkan, “Kesadaran Atman tidak bisa dicapai dengan kelemahan, kecerobohan, serta kedisiplinan tanpa tujuan. Tetapi jika onang telah memiliki pemahaman yang benar, kemudian berusaha dengan cara-cara yang benar, jiwanya memasuki tmpat kediaman Brahman.”

Atman Brahman Aikyam
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Atman, pencapaian yang tidak gampang dan nirvikalpa samadhi. Setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Brahman yang kekal, tanpa waktu, tanpa bentuk, tanpa ruang, Sang Atman.
Realisasi dan Atman, Brahman, kodrat dan setiap jiwa, dapat dicapai melalui renunsiasi (penolakan atau penyangkalan), diteruskan meditasi dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dan reinkarnasi. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dan kesadaran (chitta).

Pribadi lebih solid daripada sebuah neutron, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman. Ini adalah suatu yang berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak.

Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, tidak nyata, itulah sesungguhnya. Karena kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman sebenarnya Brahman (Atman Brahman Aikyam). Weda menjelaskan, “Seperti air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, menjadi satu tanpa diferensiasi, Atman dan Parama Atman menjadi satu.” Agustus 2009- MediaHindu 66


Majapahit. Entah sudah berapa puluh kali saya melewati jalan batutulis, tapi masih saja nggak "ngeh" (sadar) bahwa didaerah situ terdapat prasasti yang sudah berumur ribuan tahun peninggalan kerajaan Tarumanegara. Tentu bukan salah saya 100% karena meskipun lokasinya tepat ditepi jalan batutulis, susah dikenali atau dibedakan dengan bangunan pertokoan atau rumah penduduk. Malah sepintas mirip dengan kantor kelurahan atau kantor pemerintahan sejenis lainnya. Terlebih lagi daerah tersebut boleh dibilang padat arus lalu-lintasnya sehingga mata pengemudi akan cenderung mengamati jalan raya, waspada bila tiba-tiba saja ada angkutan umum yang dengan santai memotong jalan atau berhenti mendadak. Berada dalam sebuah bangunan ukuran +/- 5x5 meter, yang dipagari besi dan tanaman pada sisi dalamnya, praktis lokasi ini sama sekali tidak menarik perhatian atau mengisyaratkan ada benda istimewa didalamnya. Papan wisata yang adapun dipasang sejajar dengan badan jalan sehingga agak susah dibaca kecuali benar-benar tepat berada didepan/diseberang jalan.

Prasasti batutulis memang merupakan bagian sejarah dari kota bogor. Terletak di kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kotamadya Bogor, dulunya lokasi ini ribuan tahun yang lalu berada ditempat yang hening, sepi dan berkabut. Bahkan bagi penduduk setempat dipercaya sebagai tempat sarang harimau yang kemudian menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara kerajaan Pajajaran yang sirna dengan harimau. Scipio, seorang ekspedisi Belanda yang ditugaskan untuk membuka daerah pedalaman jakarta, melukiskan betapa hormat dan khidmatnya mereka (orang pribumi dalam rombongan ekspedisi), menghadapi situs Batutulis sampai mereka berani melarang Scipio yang merupakan pimpinannya menginjakkan kaki kedalamnya karena ia bukan orang Islam, jelas sekali mereka menganggap tempat itu "keramat", karena disitu, menurut mereka, terletak tahta atau singgasana raja Pajajaran. Dengan keyakinan seperti itu, bila pada saat mereka pertama kali menemukan tempat tersebut lalu melihat seekor atau beberapa ekor harimau keluar dari dalamnya, mereka tidak akan menganggapnya sebagai hewan biasa.


Menurut catatan sejarah, prasasti itu dibangun tahun 1533 oleh Prabu Surawisesa, sebagai peringatan terhadap ayahandanya, Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Prabu Siliwangi memerintah pada 1482 - 1521. Raja sakti mandraguna itu dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewata Prana, lalu bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Di kompleks itu terdapat 15 peninggalan berbentuk terasit, batu yang terdapat di sepanjang Sungai Cisadane. Ada enam batu di dalam cungkup, satu di luar teras cungkup, dua di serambi dan enam di halaman. Satu batu bercap alas kaki, satu batu bercap lutut, dan satu batu besar lebar yang berisi tulisan Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Konon prasasti batutulis itu dibuat oleh Prabu Surawisesa sebagai bentuk penyelasannya karena ia tidak mampu memepertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang dimanatkan padanya, akibat kalah perang dengan kerajaan Cirebon.

Perang Pakuan-Pajajaran berlangsung selama 5 tahun. Cirebon yang didukung kerajaan Demak berhasil mengalahkan kerajaan Pakuan setelah pasukan meriam Demak datang membantu tepat pada saat pasukan Cirebon mulai terdesak mundur. Laskar Galuh (Pakuan) tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar, menyemburkan kukus ireng, bersuara seperti guntur dan memuntahkan logam panas". Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam sehingga jatuhlah Galuh diikuti dua tahun kemudian dengan jatuhnya pula kerajaan Talaga, benteng terakhir kerajaan Galuh.


Prasasti yang terpahat dibatu tersebut tersusun dalam 9 baris tulisan. Adapun bunyi dan arti dari prasasti tersebut tiap baris adalah:

Wangna pun ini sasakla prabu ratu purane pun diwastu : Wangna ini tanda peringatan bagi Prabu almarhum dinobatkan.
Diya wingaran prebu guru dewata prana diwastu diya dingaran sri : Dia bernama prabu guru dewata parana dinobatkan lagi dengan nama Sri
Baduga maharaja ratu haji di pakuan pajajaran sri baduga ratu de : Baduga maharaja ratu haji dipakwan Pajajaran sang ratu de-
Wata pun ya nu nyusuk na pakuan diya anaka rahyang dewa nis : wata dialah yang membuat parit pakwan dia anak sangyang dewa nis-
Kala sang sida mokta di guna tiga incu rahyang nisakala wastu : kala yang mendiang di guna tida cucu rahyang niskala wastu
Kancana sang sida mokta ka nusa larang ya siya nu nyian sakaka : kencana yang mendiang ke nu salarang dialah yang membuat tanda pe-
La gugunungan ngabalay nyian sanghyang talaga : ringatan gugunungan, membuat teras di lereng bukit membuat hutan samida, telaga
Rena maha wijaya ya siya pun i saka panca panda : rena maha wijaya ya dialah itu dalam tahun saka lima li-
Wa emaban bumi .. : ma empat satu (1455) => dalam tahum masehi 1533.


Disebelah prasasti itu terdapat sebuah batu panjang dan bulat sama tingginya dengan batu prasasti. Batu panjang dan bulat (lingga batu) ini mewakili sosok Sri Baduga Maharaja sedangkan prasasti itu sendiri mewakili sosok Surawisesa. Penempatan kedua batu itu diatur sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang; akan tetapi ia tidak berani berdiri sejajar dengan si bapak. Demikianlah batutulis itu diletakkan agak kebelakang disamping kiri lingga batu.

Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu didepan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan dan satunya berisi padatala, ukiran jejak kaki. Mungkin pemasangan batu tulis itu bertepatan dengan dengan upacara srada yakni "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Dengan kata lain, prasasti batutulis merupakan bukti rasa hormat seorang anak terhadap ayahnya, dan merupakan suatu hal yang perlu diteladani oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.

Baca Juga Artikel Lainnya :

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action
lowongan investasi kerja di internet
internet marketing

Recent Comments

free counters